BIMBINGAN BAB II SKRIPSI

BAB II

IMPLEMENTASI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

A. BELAJAR

1. Pengertian Belajar

Proses belajar merupakan proses psikologis yang terjadi didalam diri seseorang oleh karena itu sukar diketahui dengan pasti bagaimana terjadinya. Beberapa definisi belajar dari para ahli (M. Ngalim Purwanto, 1990:18) yaitu :

  1. Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan. “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya)”.
  2. Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa: “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.
  3. Morgen, dalam buku Introduction to Psychology (1978) mengemukakan: “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”.
  4. Witherington, dalam buku Educational Psycology mengemukakan. “ Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”.

Manusia adalah homo homini lupus, yaitu selain mahluk pribadi juga sebagai mahluk sosial,sehingga dalam kehidupanya selalu berinteraksi dengan sesamanya serta dengan lingkungan tempat belajar, individu dapat melakukan interaksi untuk menciptakan suatu proses belajar. Tentu saja dalam proses belajar ini setiap individu memiliki perbedaan respon berdasarkan intelektualitas yang dimilikinya.

Berdasarkan beberapa pengertian belajar menurut para ahli di atas bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan dalam tingkah laku, perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, perubahan yang terjadi menyangkut beberapa aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.

2. Proses Belajar

Proses belajar merupakan salah satu aspek yang berkaitan dengan proses kognitif aktual yang harus dilalui oleh siswa dalam rangka mencapai keberhasilan belajar.proses ini berlangsung melalui proses penyerapan gagasan dan keterampilan baru melalui kegiatan belajar dan pembelajaran berupa pengingatan dalam waktu yang singkat (Short Term Memory) kemudian menyimpan informasi yang diterima agar kelak dapat digunakan kembali.

Bagaimanapun proses belajar merupakan kegiatan yang rumit atau kompleks karena mencakup penggunaan panca indera (lihat,dengar,cium,sentuh dan rasa) dan proses kognitif dari pengingatan,pemecahan masalah dan reasoning sehingga kondisi fisik dan psikologis harus dipertimbangkan dalam pengelolaan belajar.Secara psikologis tingkat kesulitan materi belajar ranah pengetahuan yang diberikan harus dirancang dengan mempertimbangkan perkembangan intelektual siswa.

3. Prisnsip-prinsip dalam Belajar dan Pembelajaran

Keberhasilan kegiatan belajar dan pembelajaran dalam mencapai tujuan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor,salah satu faktor yang harus dipahami oleh seorang guru adalah prinsip belajar.Sulit bagi seorang guru untuk menyusun strategi pembelajaran,metode pembelajaran,dan teknik evaluasi yang sesuai dengan karakteristik kelas serta materi yang disajikan tanpa memahami prisnsip belajar.

Gintings dalam bukunya Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran (2008) mengemukakan prinsip-prinsip belajar yaitu;

  1. pembelajaran adalah memotivasi dan memberikan fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri.
  2. Pepatah cina mengatakan” saya dengar saya lupa,saya lihat saya ingat dan saya lakukan saya paham” mirip dengan itu John Dewey mengembangkan apa yang dikenal dengan “learning by doing”,
  3. Semakin banyak alat indera atau deria yang diaktifkan dalam kegiatan belajar,semakin banyak informasi yang terserap.
  4. Belajar dalam banyak hal adalah suatu pengalaman,oleh karena itu keterlibatan siswa merupakan satu diantara faktor penting dalam keberhasilan belajar.
  5. Materi akan lebih mudah dikuasai apabila siswa terlibat secara emosional dalam kegiatan belajar pembelajaran.Siswa akan terlibat secara emosional dalam kegiatan belajar pembelajaran jika pembelajaran adalah bermakna baginya.
  6. Belajar dipengaruhi oleh motivasi dari dalam diri (intrinsik) dan dari luar diri (ekstrinsik) siswa,
  7. Semua manusia,termasuk siswa ingin dihargai dan dipuji. Penghargaan dan pujian merupakan motivasi intrinsik bagi siswa.
  8. Makna pelajaran bagi diri siswa merupakan motivasi dalam yang kuat sedangkan faktor kejutan merupakan motivasi luar yang efektif dalam belajar.
  9. Belajar “is enchanced by challenge and inhibited by threat”,

10. Setiap otak adalah unik,karena itu setiap siswa memiliki persamaan dan perbedaan cara terbaik untuk memahami pelajaran.

11. Otak akan lebih mudah merekam input jika dalam keadaan santai atau rileks daripada dalam keadaan tegang.

4. Teori Belajar

Teori belajar dan pembelajaran pada saat ini berkembang sangat banyak sekali.Terdapat persamaan dan perbedaan dari satu teori dengan teori lainnya dan memiliki kelebihan dan kekurangan.

Perdebatan mengenai teori belajar dan pembelajaran tentunya tidak membuat kita menjustice mana yang paling baik dan yang paling buruk,karena teori belajar dan pembelajaran yang sekarangpun masih bisa untuk digugat kebenarannya.

a. Teori Koneksionisme

Edward Lee Thorndike yang mengembangkan teori konekionisme dan dilanjutkan oleh pakar lainnya menjelaskan bahwa terdapat kesamaan antara proses belajar dalam diri hewan dan manusia. Kesamaan tersebut yaitu adanya hubungan atau koneksi atau asosiasi antara kesan yang ditangkap oleh pancaindera atau stimulus (S) dengan perbuatan atau respons (R) (Sudjana,2000,halaman:53 dan Suwarno,2006,halaman:59). Mengingat penekanan dari teori ini adalah hubungan antara stimulus dan respons,maka teori koneksionisme ini sering juga disebut dengan istilah teori Stimulus dan Response (S-R).

Berpegang pada teori tersebut Thorndike mengajukan tiga hukum dasar tentang prilaku belajar,yaitu:

1. Hukum Kesiapan (The Law of Readiness)

Hukum ini menjelaskan tentang adanya hubungan anatara kesiapan (readiness) seseorang dalam merespon,menerima atau menolak terhadap stimulant yang diberikan. Aplikasi hukum ini dalam konteks belajar dan pembelajaran menurut sudjana adalah bahwa “…pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien apabila peserta didik telah memiliki kesiapan belajar.”

2. Hukum Latihan ( The Law of Exercise)

Hukum ini menjelaskan bahwa hubungan antara stimulus (S) dan Response (R) akan menjadi lebih kuat jika hubungan tersebut dilakukan berulang-ulang,sebaliknya hubungan tersebut akan melemah jika jarang dilakukan. Hukum ini dalam konteks belajar mengajar menekankan pentingnya latihan (exercise) atau pengulangan (drill) dalam menggunakan materi yang sedang dipelajari untuk memperkuat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran tersebut (law of use). Kurangnya latihan atau pengulangan dalam penggunaan materi yang dipelajari akan menurunkan penguasaan siswa terhadap materi tersebut (law of disuse).

3. Hukum Akibat ( The Law of Effect)

Hukum ini menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan response yang diharapakan akan bertambah kuat dan akan selalu muncul jika memberikan akibat yang menyenangkan kepada diri seseorang. Sebaliknya,hubungan tersebut akan melemah dan jarang muncul jika memberikan akibat yang menyenangkan kepada diri seseorang.

Hukum ini dapat dijadikan alasan penerapan prinsip hadiah (reward) dan sanksi atau hukuman (punishment ) atau sering juga disebut sebagai pendekatan cambuk dan wortel (stick and carrot) dalam pembelajaran.

b. Teori Classical Conditioning

Teori ini awalnya diajukan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1927) berdasarkan percobaanya yang menggunakan seekor anjing. Berdasarkan hasil percobaanya Pavlov menyimpulkan bahwa proses belajar dalam teori seseorang yang merupakan response akan berlangsung sebagai akibat dari terjadinya pengasosian ganjaran (reward) sebagai kondisi dan rangsangan sebagai stimulus yang mendahului ganjaran tersebut.

Teori conditioning dalam belajar dan pembelajaran mengajarkan kepada guru tentang dua hal;

  1. Proses belajar dalam diri siswa tidak terjadi dengan sendirinya,tetapi memerlukan pengkondisian dalam melalui pemberian rangsangan dan penghargaan serta menyadarkan siswa antara keduanya.
  2. Proses belajar dalam diri siswa dapat diinisiasi atau dimunculkan melalui pemberian rangsangan dan pembiasaan.

c. Teori Operant Conditioning

Teori ini dikembangkan oleh Skinner yang juga didasarkan pada teori S-R dari Thorndike. Berbeda dengan Thorndike,Pavlov dan Watson,Skinner dalam teorinya menyimpulkan bahwa terdapat dua macam response yang berbeda yaitu:

  1. Respondent Response atau Reflexive response adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh teori S-R yaitu response tertentu yang ditimbulkan oleh stimulus tertentu.Artinya,hubungan antara stimulus dan response bersifat sangat terbatas dan hampir sudah terpola dan respondent response sangat kecil kemungkinannya untuk dimodifikasi.
  2. Operant response atau Instrumental response adalah response yang timbulnya diikuti oleh munculnya perangsang-perangsang lain atau reinforcing stimuli atau reinforce. Reinforcer ini kemudian akan memperkuat response reflexive yang dilakukan oleh organisme. Reinforcer menyebabkan terjadinya multiplier effect atau efek rentetan dalam diri seseorang. Sifatnya yang demikian itu memungkinkan perilaku dapat dimodifikasi dengan menggunakan operant atau instrumental response.

d. Teori Gestalt

Teori Gestalt atau teori bentuk yang dikembangkan diantaranya oleh Max Wertheimer seorang psikolog Jerman,Koffka dan Kohler. Inti dari teori gestalt yang dirangkum dari berbagai sumber (Sanjaya,118-120,Suwarno,65-68,Sudjana,55-57, Rakhmat,1985:71-73 dan Gintings,2008:24-25) adalah sebagai berikut.

  1. Jika aliran teori behavioristik memandang belajar sebagai prilaku mekanistis tanpa adanya peran insight,teori Gestalt yang merupakan kelompok aliran kognitif holistic memandang belajar adalah proses mengembangkan insight atau memahami hubungan antar unsur dalam suatu masalah.
  2. Masalah yang dihadapi oleh seseorang akan menimbulkan ketidakseimbangan kognisi dan orang itu akan berusaha memecahkan masalah tersebut guna mencapai kembali keseimbangan kognisi.masalah dalam konteks ini berfungsi sebagai stimulus untuk menemukan pemecahan masalah. Belajar bukan sekedar menghafal fakta,tapi memanfaatkan insight untuk memecahkan masalah.
  3. Belajar didasarkan pada pengalaman atau pengorganisasian kembali pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus menerus disempurnakan karena pengalaman dapat memberikan arti dalam kehidupan seseorang. Berpegang pada prinsip ini,maka salah satu peran guru dalam pembelajaran adalah menciptakan tantangan-tantangan agar siswa memperoleh pengalaman baru dan berharga dari proses belajarnya.
  4. Berdasarkan dari hasil penelitiannya Max Wertheimer merekomendasikan lima hukum yang saling terkait. Ringkasan dari kelima hukum tersebut adalah sebagai berikut ini.
    1. Hukum Pragmanz : Pengamatan terhadap suatu obyek dikaitkan dengan sesuatu yang berarti dilihat dari susunan, bentuk, ukuran, warna, dan lain sebagainya.
    2. Hukum Kesamaan (Law of Similarity) : Orang cenderung mengelompokkan gejala berdasarkan kesamaannya bukan perbedaannya.
    3. Hukum Keterdekatan (Law of Proximity) : Orang cenderung mengelompokkan gejala berdasarkan keterdekatannya dari pada kerenggangannya.
    4. Hukum Kontinyuasi (Law of Continuation) : Obyek dilihat sebagai totalitas atau keseluruhan bukan dari bagian per bagian. Implikasi dari hukum ini adalah cara pandang bahwa :

1) Dalam belajar siswa tidak menangkap bagian-bagian dari gejala tetapi menangkapnya secara keseluruhan karena keseluruhan lebih penting dari bagian-bagiannya.

2) Anak yang belajar merupakan keseluruhan dalam arti bahwa pembelajaran yang dilakukan terhadap anak bukan hanya mengembangkan intelektualnya saja, tetapi mengembangkan keseluruhan kepribadian anak seutuhnya (whole child education).

  1. Hukum Ketertutupan (Law of Closure) : Dalam mengamati suatu obyek atau gejala, orang cenderung untuk menutupi atau melengkapi bagian-bagian yang kurang agar menjadi utuh.

e. Teori Medan

Teori medan atau field theory yang diawali pengembangannya oleh Kurt Lewin dapat dijelaskan dalam bentuk rumus berikut ini (Sudjana:56)

B = f ( P, E ) , dibaca B adalah fungsi dari P dan E.

Dengan mana :

B adalah behavior atau perilaku sebagai hasil belajar

P adalah person atau individu

E adalah environment atau lingkungan atau medan

Menurut rumus Lewin hasil belajar ditentukan oleh individu dan lingkungan. Selanjutnya untuk menganalisis pengaruh lingkungan Lewin mengembangkan teknik FFA (Force Field Analysis) atau Analisis Kekuatan Medan. Dengan teknik FFA ini kekuatan-kekuatan medan dibedakan atas kekuatan pendorong (D) atau driving force dan kekuatan penghambat (H) atau restraining force. Guna mencapai kemajuan atau perubahan perilaku ketingkat tertentu yang diinginkan, maka strategi pembelajaran yang harus dilakukan adalah memperkuat medan pendorong dan memperlemah medan penghambat.

Teori medan yang dikembangkan oleh Lewin memiliki kesamaan dengan teori gestalt yaitu menganggap bahwa belajar adalah pemecahan masalah. Menurut Lewin, ada dua hal yang terkait dengan pemecahan masalah sebagai proses belajar (Sanjaya : 120-121) yaitu :

  1. Belajar adalah perubahan struktur kognitif. Setiap orang dapat memecahkan masalah jika bisa mengubah struktur kognitifnya sesuai dengan masalah yang dihadapinya.
  2. Motivasi adalah faktor pendorong belajar. Ketertarikan kepada sesuatu dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk melakukan tindakan.

f. Teori Humanistik

Beberapa pandangan teori humanistik tentang belajar dan pembelajaran adalah sebagaimana dirangkum berikut ini (Sudjana, 60-81, Muhibbin Syah Dalam Fathurrohman dan Sutikno, 2007 : 34) :

  1. Siswa akan mempersepsi pengalaman belajarnya sesuai dengan kebutuhan belajarnya serta menginternalisasi pengalaman tersebut ke dalam dirinya secara aktif. Oleh sebab itu, salah satu peran guru adalah membantu tumbuhnya pengalaman-pengalaman baru yang dirasakan manfaatnya bagi kehidupan siswa dan lingkungannya.
  2. Pendekatan belajar dan pembelajaran teori humanistik adalah berpusat kepada siswa “leaner centered” yang diterapkan dengan menggunakan prinsip-prinsip “self determination” dan ‘self-directions”. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menentukan sendiri apa yang ingin dipelajari sesuai dengan ketersediaan sumber-sumber belajar. Dalam konteks ini, guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator.
  3. Perilaku adalah perwujudan diri, oleh karena itu belajar dan pembelajaran berfungsi sebagai sarana dan prasarana bagi siswa untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi manusia yang mandiri.
  4. Satu dari tokoh yang mengembangkan teori ini yaitu Abraham Maslow mengemukakan hirarki motivasi yang didasarkan pada tingkat dan kebutuhan manusia yaitu : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosiologis, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri,

g. Teori Konstruktivistik

Teori ini dikembangkan oleh Jean Piaget. Teori ini memandang bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dengan jalan berinteraksi secara terus menerus dengan lingkungannya. Pandangan ini berimplikasi menolak bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang dapat ditransfer. Penganut teori konstruktivistik memandang upaya mentransper pengetahuan adalah pekerjaan yang sia-sia. Implikasi praktis dari teori ini (Sudjana, 58-59) yaitu bahwa dalam pembelajaran harus disediakan bahan ajar yang secara konkrit terkait dengan kehidupan nyata dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya.

Ki Hajar Dewantara pun memiliki pandangan yang sama terhadap teori kontruktivisme. Ki Hadjar yang memakai semboyan “Tut Wuri Handayani”, menempatkan pengajar sebagai orang yang berada di belakang siswa, membimbing dan mendorong siswa untuk belajar, memberi teladan, serta membantu siswa membiasakan dirinya untuk menampilkan perilaku yang bermakna dan berguna bagi masyarakatnya. Pengajar harus banyak terlibat dengan siswa agar ia memahami konteks yang melingkupi kegiatan belajar siswa. Ia juga melibatkan siswa dalam menentukan apa yang hendak dibicarakan dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga siswa benar-benar terlibat. Ki Hadjar mengemukakan sistem pendidikan yang memerdekakan siswa atau yang disebutnya ‘sistem merdeka’. Dalam tulisan “Ketertiban, Perintah dan Paksaan. Faham Tua dan Faham Baru” yang dimuat di Waskita edisi Mei 1929-Jilid I no. 8, Ki Hadjar mengemukakan syarat untuk melakukan ‘sistem merdeka’ agar memperoleh hasil yang baik. Inti dari syarat-syarat itu adalah memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang dapat dijadikan media pembelajaran, mencakup pembelajaran tentang konsekuensi logis dari tindakan sesuai dengan hukum sebab-akibat dan kesadaran tentang pentingnya belajar bagi kehidupan siswa dalam keseharian mereka. Ki Hadjar menunjukkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan tujuan membantu siswa menjadi manusia yang merdeka dan mandiri, serta mampu memberi konstribusi kepada masyarakatnya. Menjadi manusia merdeka berarti (a) tidak hidup terperintah; (b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri; dan (c) cakap mengatur hidupnya dengan tertib.

5. Belajar Sebagai Perubahan Tingkah Laku

Salah satu definisi modern tentang belajar menyatakan bahwa belajar adalah “Pengalaman terencana yang membawa perubahan tingkah laku”. (Gintings, 2005) Senada dengan ini maka pembelajaran adalah memotivasi dan menyediakan fasilitas agar terjadi proses belajar pada diri si pelajar.

Dari pengertian ini pula maka berarti guru bertanggung jawab dalam :

  1. Mengidentifikasi perubahan tingkah laku yang diinginkan.
  2. Menyusun sumber-sumber belajar termasuk isi dan media instruksi untuk menyediakan suatu pengalaman dimana siswa akan memperoleh kesempatan untuk merubah tingkah lakunya.
  3. Menyelenggarakan sesi pembelajaran (kegiatan belajar pembelajaran).
  4. Mengevaluasi apakah perubahan tingkah laku telah tercapai, dan bila sudah menilai kualitas dan kuantitas perubahan tersebut.

Dari uraian ini ada dua dimensi pembelajaran yang harus benar-benar dipahami dan dihayati oleh seorang guru yakni :

  1. Guru harus menetapkan perubahan tingkah laku yang harus dicapai siswa dan merencanakan pengalaman yang akan dilalui oleh siswa untuk mencapai perubahan tersebut.
  2. Pada kenyataanya, siswa harus menjadikan perubahan tingkah laku tersebut menjadi keinginannya sendiri sebelum mereka siap untuk belajar.

6. Ranah Tingkah Laku

Bloom berpendapat, tingkah laku dapat dibedakan atas tiga ranah (domain) : Pengetahuan (Cognitive), Keterampilan (Psychomotoric), dan ranah sikap (Affective).

Gambar 2.1 Ketiga Ranah Tingkah Laku Menurut Bloom

Pendapat Bloom ini apabila kita terapkan dalam menerapkan tujuan proses belajar pembelajaran, maka ada tiga “domain” tingkah laku yang secara terpisah atau paduannya yang harus diidentifikasi, dicapai, dan dievaluasi dalam kegiatan belajar pembelajaran.

7. Taksonomi Tingkah Laku

Di samping membedakan tingkah laku atas tiga ranah seperti dijelaskan diatas. Bloom juga membedakan tingkah laku atas tingkatan atau taksonomi. Tingkatan ini dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam menetapkan tujuan instruksional yang akan dicapai melalui kegiatan belajar pembelajaran yang direncanakan. Dengan kata lain, guru dapat menetapkan pada tingkat mana perubahan tingkah laku dalam ranah pengetahuan dan keterampilan diharapkan akan dicapai siswa melalui pengalaman belajar yang direncanakan.

Tabel 2.1

Taksonomi Tingkah Laku

KOGNITIF

(Thinking)

PSIKOMOTOR

(Doing)

AFEKTIF

(Feeling)

  1. Pengetahuan
  2. Persepsi
  3. Penerimaan
  4. Pemahaman
  5. Kesiapan
  6. Partisipasi
  7. Aplikasi/
penerapan
  1. Gerakan terbimbing
  2. Penilaian/penentuan sikap
  3. Analisa
  4. Gerakan terbiasa
  5. Pengorganisasian nilai
  6. Sintesa/mencipta
  7. Gerakan kompleks
  8. Pembentukan sikap/karakterisasi
  9. Evaluasi
  10. Penyesuaian pola gerak
  1. Kreativitas

Perlu diingat, bahwa tingkah laku tertentu baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap merupakan akumulasi tingkatan tingkah laku pada jenjang di bawahnya,sehingga dapat dinyatakan bahwa :

  1. Seorang yang telah mencapai tingkatan tingkah laku tertentu dapat dipastikan menguasai tingkatan sebelumnya.
  2. Untuk menguasai tingkatan tingkah laku tertentu tidak dapat dilakukan dengan melompati jenjang yang ada di bawahnya.

8. Mengidentifikasi dan Proses Pengubahan Tingkah Laku

Mengidentifikasi perubahan tingkah laku yang harus dicapai dapat dimulai dengan melakukan Training Need Analysis atau Analisis Kebutuhan Pelatihan. Gambar 2.2 berikut ini memperlihatkan diagram alur (flow chart) proses mengidentifikasi tingkah laku yang akan diubah diikuti dengan proses perancangan, penyelenggaraan, dan evaluasi kegiatan belajar dan pembelajaran.

Gambar 2.2 Identifikasi tingkah laku yang akan diubah

Merujuk kepada Gambar 2.2 , identifikasi tingkah laku yang akan diubah dilakukan dengan membandingkan tingkah laku yang dimiliki saat ini dengan tingkah laku yang akan dicapai. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pre-requisite test atau test syarat kemampuan awal. Cara lain adalah dengan melaksanakan wawancara dan mempelajari sejarah pendidikan yang bersangkutan.

Hasil pre-requisite test akan diketahui gap atau kemampuan yang harus diajarkan untuk mencapai tingkah laku yang diharapkan. Berdasarkan gap ini dianalisis pula berbagai kebutuhan belajar yang diperlukan baik secara klasikal maupun secara individual. Selanjutnya, merujuk kepada hasil analisis kebutuhan belajar dan pembelajaran, disusun RPP (Rencana Penyelenggaraan Pembelajaran). RPP ini utamanya berisi skenario belajar dan pembelajaran yang setidaknya memuat tentang : isi, model mengajar, alat bantu atau media, dan evaluasi.

B. PRESTASI

Seorang pengajar dalam mengajar, harus mengetahui tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam mengajarkan suatu pokok bahasan. Penampilan-penampilan yang dapat diamati sebagai hasil prestasi belajar disebut kemampuan-kemampuan (capabilities) (Gagne,1988 dalam Wilis, 1996:134). Menurut Gagne ada lima kemampuan bila ditinjau dari segi hasil yang diharapkan dari suatu pengajaran atau instruksi, kemampuan-kemampuan itu perlu dibedakan, karena kemampuan itu memungkinkan berbagai macam penampilan manusia, dan juga karena kondisi untuk memperoleh berbagai kemampuan yang berbeda. Kemampuana itu adalah:

a. Keterampilan Intelektual

Keterampilan-keterampilan intelektual memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya melalui penggunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan. Belajar keterampilan intelektual ini sudah dimulai sejak tingkat-tingkat pertama sekolah dasar atau tingkat kanak-kanak, dan dilanjutkan sesuai dengan perhatian dan kemampuan intelektual sesorang. Selama bersekolah, banyak jumlah keterampilan-keterampilan intelektual yang dipelajari oleh seseorang. Keterampilan-keterampilan intelektual ini, untuk bidang studi apa pun, dapat digolongkan berdasarkan kompleksitasnya. Perbedaan-perbedaan yang berguna antara keterampilan intelektual untuk tujuan pengajaran, diperlihatkan pada gambar berikut:

Gambar 2.3: Tingkat Kompleksitas dalam Keterampilan Intelektual

Belajar mempengaruhi perkembangan intelektual seseorang dengan cara yang disarankan pada tabel di atas. Memecahkan masalah, siswa memerlukan aturan-aturan tingkat tinggi, yaitu aturan-aturan yang kompleks,demikian pula diperlukan aturan-aturan dan konsep-konsep terdefinisi. Siswa untuk emperoleh aturan-aturan ini sudah harus belajar beberapa konsep konkret, dan untuk belajar konsep konkret ini siswa harus menguasai diskriminasi-diskriminasi.

b. Strategi-Strategi Kognitif

Strategi kognitif ialah suatu macam keterampilan intelektual khusus yang mempunyai kepentingan tertentu bagi belajar dan berpikir. Strategi kognitif merupakan suatu proses kontrol, yaitu suatu proses internal yang digunakan siswa untuk memilih dan mengubah cara memberikan perhatian, belajar, mengingat, dan berpikir (Gagne, 1985 dalam Willis, 1996:134). Strategi kognitif dapat dikelompokan sebagai berikut:

1). Strategi menghafal

2). Strategi elaborasi (pembuatan ringkasan, catatan, dan pertanyaan)

3). Strategi pengaturan (penyusunan materi yang akan dipelajari)

4). Strategi metakognitif (penentuan tujuan belajar)

5). Strategi afektif (memusatkan dan mempertahankan perhatian)

c. Informasi Verbal

Informasi verbal disebut juga pengetahuan verbal. Informasi verbal diperoleh sebagai prestasi belajar di sekolah, dan juga dari kata-kata yang diucapkan orang, dari membaca, mendengar, dan melihat.

d. Sikap-sikap

Sikap merupakan pembawaan yang dapat dipelajari, dan dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda-benda, kejadian-kejadian, atau makhluk-makhluk hidup lainnya. Suatu sikap mempengaruhi sekumpulan besar perilaku-perilaku khusus seseorang.

e. Keterampilan-keterampilan motorik

Keterampilan motorik tidak hanya mencakup kegiatan-kegiatan fisik, melainkan juga kegiatan-kegiatan motorik yang digabung dengan keterampilan intelektual, misalnya membaca, menulis, memainkan sebuah instrumen musik, atau dalam pelajaran sains, bagaimana menggunakan berbagai macam alat sepert mikroskop, berbagai alat listrik dalam pelajaran fisika, dan lain-lain.

Hasil prestasi belajar siswa dapat di ukur berdasarkan perbedaan tingkah laku sebelum dan sesudah belajar di lakukan,jadi prestasi belajar adalah terdapatnya perubahan tingkah laku, perbuatan, pengetahuan konsep, dan kebiasaan sikap.

C. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. Pengertian Model

Memahami model menjadi hal yang penting bagi seorang guru dalam menyikapi perkembangan kurikulum yang selalu berubah. Pengertian model dari beberapa pendapat ahli dapat dikemukakan berikut ini.
Law dan Kelton (1991:5) mendefinisikan :

“Model sebagai representasi suatu sistem yang dipandang dapat mewakili sistem yang sesungguhnya. Visualisasi dirumuskan melalui aktivitas mental berupa berpikir (ways of thinking) tertentu untuk melakukan konkritisi atas fenomena yang abstrak”.

Mills (1989:4) berpendapat bahwa :

“Model adalah bentuk reprensentasi akurat, sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu. Hal itu merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa system”.

Johansen (1993:2) mengemukakan empat kategori model yaitu :
(1) cognitive models (human concepts); (2) normative models (purposes oriented); (3) deskriptive models (behavior oriented); dan (4) functional model (action and control oriented).

Cognitive models (human concepts) merupakan model-model konseptual yang mendasari penalaran dan persepsi, belajar induktif, pembuatan keputusan, perencanaan dan sebagainya. Cognitive models (human concepts) juga bermakna sebagai usaha manusia untuk memahami dan mengontrol segala seluk-beluk yang berkaitan dengan dunianya.

Normative models (purposes oriented) merupakan penggambaran mengenai fungsi-fungsi spesifik yang diinginkan, tujuan dan sasaran sebuah sistem atau proses. Model normatif pada umumnya digunakan dalam kerangka desain enginering dan regulasi pemerintahan.

Deskriptive models (behavior oriented) pada umumnya digunakan untuk tujuan saintifik dan teknologikal, model semacam ini biasanya dipilah menjadi dua kategori: (a) model kuantitatif yang dijelaskan dengan angka-angka atau parameter, dan (b) model kualitatif yang dijelaskan dengan data dan kategorial.

Bertolak dari uraian mengenai model yang telah dikemukakan memberikan pemahaman, bahwa suatu model dapat ditinjau dari aspek mana kita memfokuskan suatu pemecahan permasalahannya.

”Pengertian model pembelajaran dalam konteks ini, merupakan landasan praktik pembelajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar, yang dirancang berdasarkan proses analisis yang diarahkan pada implementasi KTSP dan implikasinya pada tingkat operasional di depan kelas“.

2. Model Mengajar

Model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi peserta didik, dan memberi petunjuk kepada pengajar di dalam kelas dalam seting pengajaran atau seting lainnya.

Memilih suatu model mengajar, harus disesuaikan dengan realitas yang ada dan situasi kelas yang ada serta pandangan hidup yang akan dihasilkan dari proses kerjasama yang dilakukan antara guru dan peserta didik. Seorang guru harus mampu menentukan model mengajar mana yang akan dipilih dalam menyampaikan suatu materi, agar para peserta didik dapat dengan mudah menyerap apa yang disampaikannya. Guru harus mampu memilih model mengajar yang sesuai dengan jenis atau gaya belajar yang dimiliki peserta didik.

Menentukan model mengajar yang cocok itu sangat sulit, tetapi guru harus memiliki asumsi, bahwa hanya ada satu model mengajar yang sesuai dengan model belajar. Dengan kata lain, apabila seorang guru akan menyampaikan materi pada peserta didik yang memiliki model belajar “A”, maka harus digunakan model mengajar “A”. Guru apabila mengharapkan peserta didiknya menjadi produktif, maka guru harus membiarkannya dia berkembang sesuai dengan gayanya masing-masing. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar peserta didik.

Model mengajar yang telah dikembangkan oleh para ahli sangat banyak sekali. Mengingat banyaknya model mengajar yang telah dikembangkan, Bruce Joyce et.al (2000) mengelompokkan menjadi empat rumpun yaitu: model pemrosesan informasi (processing information model), model pribadi (personal model), model interaksi sosial (social model), dan model perilaku (behavior model).

1. Rumpun model pemrosesan informasi;

Model mengajar rumpun ini terdiri dari model mengajar yang menjelaskan bagaimana cara individu memberi response terhadap stimulus yang datang dari lingkungan. Prosesnya ditempuh melalui langkah-langkah seperti mengorganisasi data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah, serta penggunaan symbol verbal dan non verbal. Tergolong pada model ini adalah model mengajar yang lebih menekankan pada kecakapan intelektual umum dan interaksi sosial dan hubungan antar pribadi serta perkembangan kepribadian siswa yang terintegrasi dan fungsional.

Model mengajar yang tergolong pada kelompok rumpun model ini, yaitu:

Tabel 2.2 Rumpun model pemrosesan informasi

Model

Pengembang

Inductive thinking
(classification-oriented)
Hilda Taba
(Bruce Joyce)
Concept attainment Jerome Bruner
Mnemonics (memory assists) Michael Pressley; Joel Levin; Richard Anderson
Advance organizers David ausubel
Scientific inquiry Joseph Schwab
Inquiry Tarining Richard Suchman
Synectics Bill Gordon

2. Rumpun model pribadi;

Rumpun model mengajar ini berorientasi pada perkembangan diri individu. Pelaksanannya lebih menekankan pada upaya membantu individu dalam membentuk dan mengorganisasikan realita yang unik serta lebih memperhatikan kehidupan emosional peserta didik. Melalui rumpun model mengajar ini, diharapkan peserta didik dapat meilihat dirinya sendiri sebagai pribadi yang berada dalam suatu kelompok dan memiliki kemampuan.

Tergolong pada kelompok rumpun model mengajar ini adalah:

Tabel 2.3 Rumpun model pribadi

Model

Pengembang

Nondirective teaching Carl Rogers
Enhancing self esteem Abraham Maslow

3. Rumpun model Interaksi Sosial;

Rumpun model mengajar ini mengutamakan pada hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain, dan memusatkan perhatiannya pada proses dimana realita yang ada dipandang sebagai sebagai negosiasi sosial.

Tergolong pada kelompok rumpun model mengajar ini adalah

Tabel 2.4 Rumpun model Interaksi Sosial

Model

Pengembang

Partner in learning
Positive interdependence David Johnson; Roger Johnson; Margarita Calderon; dan Elizabethh Cohen
Structured Inquiry Robert Stavin (Aronson)
Group Investigation John Dewey; Herbert Thelen; (Shlomo Sharan); Bruce Joyce)
Role Playing Fannie Shaftel
Jurisprudential inquiry Donald Oliver; James Shaver

4. Rumpun Model Perilaku;

Rumpun model mengajar ini dibangun atas dasar teori yang umum, yaitu kerangka teori perilaku. Salah satu cirinya adalah kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang kecil-kecil dan berurutan serta dapat terukur. Belajar dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyeluruh, tetapi diuraikan dalam langkah-langkah yang konkrit dan dapat diamati. Mengajar tidak lebih dari mengusahakan terjadinya perbuatan dalam perilaku siswa, dan perubahan tersebut haruslah teramati.

Model mengajar yang tegolong pada rumpun model mengajar ini adalah:

Tabel 2.5 Rumpun Model Perilaku

Model

Pengembang

Mastery learning Benyamin Bloom; James Block
Direct Instruction Tom Good, Jere Brophy; Carl Gereiter; Ziggy Englemnet; dan Wes Becker
Simulation Carl Smith; Mary Smith
Social Learning Albert Bandura; Carl Thoresen; dan Wes Becker
Programmed Schedule B.F Skiner

3. Model Belajar sebagai Pendekatan Baru

  1. Berdasarkan teori belajar yang ada model belajar pada akhirnya bermuara pada tiga model utama, yaitu: a) Behaviroisme, b) Kognitivisme, dan c) Konstruktivisme

a. Model Belajar Behaviorisme

Good et. al.(1990) menganggap Behaviorisme atau tingkah laku ini dapat diperhatikan dan diukur. Prinsip utama bagi teori ini ialah faktor rangsangan (stimulus), Respon (response) serta penguatan (reinforcement).

Teori ini menganggap faktor lingkungan sebagai rangsangan dan respon peserta didik terhadap rangsangan itu ialah responsnya. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Thorndike (2001) yang menyatakan bahwa hubungan di antara stimulus dan response akan diperkuat apabila responnya positif diberikan reward yang positif dan tingkah laku nagatif tidak diberi apa-apa (hukuman).

RANGSANGAN (stimulus) ———-> RESPON
(response)
———-> PENGUATAN (reinforcement)

Tabel 2.6: Model belajar Behaviorisme

Seorang peserta didik yang diberikan ganjaran positif setelah dia menunjukkan respon positif akan mengulangi respon tersebut setiap kali rangsangan yang serupa ditemui. Hal demikian akan diperoleh dalam pengajaran guru dengan adanya latihan dan ganjaran terhadap sesuatu latihan. Penguatan (reinforcement) yang terbina akan memberi rangsangan supaya belajar lebih bersemangat dan bermotivasi tinggi. Peserta didik yang berprestasi memperoleh pengetahuan yang mereka inginkan dalam sesuatu sesi pembelajaran, dapat dikatakan mendapat response positif.

Gagne et.al. (1992) dalam behaviorisme, terdapat delapan elemen yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran di sekolah, yaitu:

1) menarik perhatian,

2) menjelaskan tujuan,

3) Merangsang proses “recall”,

4) Menyiapkan bahan atau materi yang dapat merangsang/menarik perhatian peserta didik,

5) Menyediakan bimbingan terhadap peserta didik,

6) Memberi penghargaan terhadap kemajuan peserta didik berdasarkan tugas dan latihan,

7) Menilai kemajuan belajar peserat didik,

8) Mengembangkan pengetahuan dan kepandaian yang telah dimiliki peserta didik.

Tabel 2.7 Penerapan behavioristik dalam pembelajaran

Model Belajar

Karakteristik Teori

Langkah Penerapan Dalam pembelajaran

Belajar behavioristik (tingkah laku) Belajar adalah perubahan tingkahlaku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu bila ia mampu menunjukkan perubahan tingkahlaku. Pada teori ini yang terpenting adalah ma-sukkan yang berupa stimulus dan ke-luaran yang berupa respons.

Adapun apa yang telah terjadi diantara stimulus dan respons itu dianggap tak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Yang bisa diamati hanyalah stimulus dan respons

  1. Menentukan tujuan-tujuan Instruksional
  2. Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasikan “entry behavior” peserta didik (pengetahuan awal peserta didik)
  3. Menentukan materi pelajaran (pokok bahasan)
  4. Memecah materi pelajaran menjadi bagian-bagian kecil (sub pokok bahasan, sub topik)
  5. Menyajikan materi pelajaran
  6. Memberikan stimulus yang mungkin berupa : pertanyaan (lisan/tertulis) tes, latihan dan tugas-tugas
  7. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan
  8. Memberikan penguatan / reinforcment positip atau negatif
  9. Memeberikan stimulus baru

10. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan

11. Memberikan penguatan

b. Model Kognitif

Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.

Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Menurut Ausubel, konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual, yaitu:

  1. enactive, dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek;
  2. iconic, dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar;
  3. symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak

Gagne melakukan penelitian pada belajar mengajar sebagai suatu rangkaian pase, menggunakan step-step kognitif: pengkodean (cooding), penyimpanan (storing), perolehan kembali (retrieving), dan pemindahan informasi (transferring information). Dia berpendapat bahwa suatu tugas dapat dipelajari dengan urutan yang spesifik pada sembilan peristiwa, yaitu

  1. Memperoleh perhatian (gaining attention),
  2. Informasi peserta didik pada tujuan (informing the learner of the objective),
  3. Prasyarat daya ingat sebagai prasyarat belajar (stimulating recall of prerequisite learning),
  4. Menyajikan materi baru (presenting new material),
  5. Menyediakan bimbingan belajar (providing learning guidance),
  6. Menyatakan capaian (eleciting performance),
  7. Menyatakan umpan balik sebagai ketepatan (providing feedback about correctness),
  8. Menaksir capaian (assessing performance), dan
  9. Penambahan ingatan dan daya ingat (echancing retention and recall)

Mergel (1998) juga menjelaskan teori pemrosesan pengetahuan ini dengan menyatakan, bahwa pengetahuan yang diterima itu akan terlebih dahulu disimpan pada pendaftar sensor. Pengetahuan yang baru diterima akan dibandingkan dengan Kognitif yang telah dulu ada. Pengetahuan yang telah ada tersebut dapat diperbaiki, ditambah, disesuaikan dan digabungkan dengan pengetahuan yang baru.

Gambar 2.8 Model belajar Kognitivisme

INFORMASI YANG DITERIMA
(Input)

——> INFORMASI DIPROSES ——>

——->

INFORMASI DISIMPAN
1. JANGKA PENDEK
2. JANGKA PANJANG (Output)

Kognitif mendeskripsikan belajar sebagai perubahan pengetahuan yang tersimpan dalam memori. Proses belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi yang meliputi tiga tahap, yaitu perhatian (attention), penulisan dalam bentuk simbol (encoding), dan mendapatkan kembali informasi (retrieval), Hal ini sejalan dengan pendapat Wittig (Muhibbin 1995) proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu

  1. 1. Perolehan informasi (Aquasistion),

Tahap ini siswa mulai menerima informasi sebagai stimulus dan memberikan respon sehingga ia memiliki pemahaman atau perilaku baru. Tahap aguasistion merupakan tahapan yang paling mendasar, bila pada tahap ini kesulitan siswa tidak dibantu maka ia akan mengalami kesulitan untuk menghadapi tahap selanjutnya.

  1. 2. Penyimpanan informasi (Storage),

Pemahaman dan perilaku baru yang diterima siswa secara otomatis akan disimpan dalam memorinya yang disebut short term memory atau long term memory.

  1. 3. Mendapatkan kembali informasi (Retrieval),

Tahap retrival merupakan peristiwa mental dalam rangka mengungkapkan kembali informasi, pemahaman, pengalaman yang telah diperolehnya.

Guru dalam pelaksanaannya berperan sebagai penuntun (guide) dan pendukung proses kognitif yang mendukung memori. Guru harus mengorganisasi informasi baru, menyambungkan informasi baru tersebut dengan pengetahuan yang ada, dan menggunakan teknik untuk menuntun dan mendukung attention, encoding, dan retrieval peserta didik pembelajaran mengarah kepada ingatan jangka panjang dan sedikit pada ingatan jangka pendek, akan membantu peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru juga harus menyiapkan soalan ujian.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu enactif, iconic, dan symbolic

Tahap pertama adalah tahap enaktif, dimana siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan.
Tahap kedua adalah tahap ikonik dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Tahap ketiga adalah tahap simbolik, dimana ia mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan

Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, dimana materi yang dipelajari diasimilasikan secara non-arbitrari dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Menurut Reilly & Lewis, (1983) ada dua persyaratan untuk membuat materi pelajaran bermakna yaitu

  1. Pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu;
  2. Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna

Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar melalui tahap-tahap sebagai berikut

  1. Mengukur kesiapan peserta didik seperti minat, kemampuan dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, review , pertanyaan-pertanyaan dan lain-lain tehnik;
  2. Memilih materi-materi kunci, lalu menyajikannya dimulai dengan contoh-contoh kongkrit dan kontraversial;
  3. Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasi dari materi baru itu;
  4. Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari,
  5. Memakai advance organizers;
  6. Mengajar peserta didik memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada

Menurut Hartley & Davies (1978), prinsip-prinsip kognitifisme dari beberapa contoh diatas banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah

  1. Peserta didik akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu;
  2. Penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit. Untuk dapat melakukan tugas dengan baik peserta didik harus lebih tahu tugas-tugas yang bersifat lebih sederhana;
  3. Belajar dengan memahami lebih baik dari pada menghapal tanpa pengertian. Sesuatu yang baru harus sesuai dengan apa yang telah diketahui siswa sebelumnya. Tugas guru disini adalah menunjukkan hubungan apa yang telah diketahui sebelumnya;
  4. Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual, kepribadian, kebutuhan akan suskses dan lain-lain. ( Soekamto,1992:36)

Tabel 2.9 Penerapan Model Kognitif dalam pembelajaran

Belajar Karakteristik Teori Langkah Penerapan Dalam pembelajaran
Belajar Kognitif Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman.
Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkahlaku yang bisa diamati. Setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya
Kognitif Bruner Model ini sangat membebaskan peserta didik untuk belajar sendiri. Teori ini mengarahkan peserta didik untuk belajar secara discovery learning.
  1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  2. Memilih materi pelajaran
  3. Menentukan topik-topik yang akan dipeserta didiki
  4. Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dsbnya., yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan belajar
  5. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke kompleks
  6. Mengevaluasi proses dan hasil belajar
Bermakna Ausubel Dalam aplikasinya menuntut peserta didik belajar secara deduktif (dari umum ke khusus) dan lebih mementingkan aspek struktur kognitif peserta didik
  1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  2. Mengukur kesiapan peserta didik (minat, kemampuan, struktur kognitif)baik melalui tes awal, interviw, pertanyaan dll.
  3. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci
  4. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai peserta didik dari materi tsb.
  5. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang apa yang harus dikuasai pesertadidik.
  6. Membuat dan menggunakan “advanced organizer” paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi (keterkaiatan) materi yang sudah diberikan dengan yang akan diberikan.
  7. Mengajar peserta didik untuk memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada
  8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar

c. Model Konstruktivisme

Konstruktivisime merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam diri manusia. Faham konstruktivisme menekankan dalam proses belajar mengajar, guru tidak serta merta memindahkan pengetahuan kepada peserta didik dalam bentuk yang serba sempurna tetapi pesera didiklah yang harus membangun suatu pengetahuan itu berdasarkan pengalamannya masing-masing.

Pembelajaran adalah hasil dari usaha peserta didik itu sendiri. Pola pembinaan ilmu pengetahuan di sekolah merupakan suatu skema, yaitu aktivitas mental yang digunakan oleh peserta didik sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan pengabstrakan. Realita yang diketahui peserta didik adalah realita yang dia bina sendiri. Peserta didik sebenarnya telah mempunyai satu set idea dan pengalaman yang membentuk struktur kognitif terhadap lingkungan mereka.Guru harus memperkirakan struktur kognitif yang ada pada siswa dalam membantu siswa untuk membina konsep atau pengetahuan baru. Pengetahuan baru yang telah disesuaikan dan diserap dijadikan sebagian daripada pegangan kuat mereka, barulah kerangka baru tentang sesuatu bentuk ilmu pengetahuan dapat dibina. Proses ini dinamakan konstruktivisme

Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahwa peserta didik mempunyai pemikiran mereka sendiri tentang hampir semua hal, di mana ada yang betul dan ada yang salah. Kefahaman dan miskonsepsi ini jika diabaikan atau tidak ditangani dengan baik, maka semua idea awal yang dimliki mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam ujian/tes, mungkin mereka memberi jawaban seperti yang dikehendaki oleh guru

John Dewey menguatkan teori konstruktivisme ini dengan mengatakan bahwa pendidik yang cakap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara berkesinambungan. Dia juga menekankan kepentingan keikutsertakan peserta didik di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.

Persepektif epistemologi yang disarankan dalam konstruktivisme, menyatakan fungsi guru akan berubah. Perubahan akan berlaku dalam teknik pengajaran dan pembelajaran, penilaian, penelitian dan cara melaksanakan kurikulum. Perspektif ini akan mengubah kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kemampuan peserta didik mencontoh dengan tepat apa saja yang disampaikan oleh guru, kepada kaidah pengajaran dan pembelajaran yang menumpu kepada kemampuan peserta didik dalam membina skema pengkonsepan berdasarkan pengalaman yang aktif. Ia juga akan mengubah tumpuan penelitian dari pembinaan model berdasarkan kaca mata guru kepada pembelajaran sesuatu konsep ditinjau dari kaca mata peserta didik

Janassen et.al (1999) berpendapat proses pembelajaran berlaku berdasarkan pengalaman seseorang. Pengetahuan yang mereka peroleh itu adalah hasil interpretasi pengalaman tersebut yang disusun dalam pikiran/otak seseorang. Pengetahuan yang diterima para peserta didik secara formal di sekolah tidak boleh 100% (seluruhnya) dipindahkan guru kepada peserta didik tersebut. Guru harus berupaya untuk membina para siswa dalam upaya membentuk pengetahuan tersebut berdasarkan pengalamannya masing-masing.

. Peserta didik akan membina pengalaman baru berdasarkan pengalaman dan tanggapan yang lepas. Hal ini sesuai dengan pendapat Bruner (1999) yang menyatakan bahwa pembelajaran konstruktivisme berdasarkan keterlibatan aktif peserta didik dalam penyelesaian masalah dan pemikiran kritikal dalam aktivititas pembelajaran. Mereka membina pengetahuan melalui pengalaman sendiri dengan menguji idea-idea, segala informasi dan mengaplikasikannya kepada situasi baru.

Merril (1991) mengelompokkan teori konstruktivisme ini kepada beberapa bagian, yaitu

  1. Pengetahuan yang dibentuk melalui pengalaman
  2. pembelajaran adalah intepretasi seseorang terhadap lingkungan sekitarnya.
  3. pembelajaran merupakan satu proses aktif yang dibina dari pengalaman seseorang
  4. Konsep terhadap sesuatu pengalaman dibina dari penyatuan beberapa perspektif secara kolaboratif (konstruktivisme kognitif dan konstruktivisme sosial)
  5. pembelajaran dibina didalam situasi nyata

Paparan tersebut menyiratkan kesimpulan bahwa;.

  1. Murid tidak hanya dibekali dengan fakta-fakta, melainkan diarahkan pada kemampuan penguasaan dalam proses berfikir dan berkomunikasi,
  2. Guru hanya merupakan salah satu sumber pengetahuan, bukan orang yang tahu segala-galanya. Jadi guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing belajar peserta didik.
  3. Sebagai implikasinya, dalam penilaian pun harus mencakup cara-cara penyelesaian masalah dengan berpatokan pada aturan yang berlaku. Teknik-teknik tersebut dapat berbentuk peta konsep, diagram ven, portopolio, uji kompetensi, dan ujian komprehensip.

Beberapa aliran dalam pembelajaran konstruktivisme, yaitu

  1. Piaget

Pembelajaran konstruktivisme berdasarkan pemahaman Piaget, beranggapan bahwa: 1) gambaran mental seseorang dihasilkan pada saat berinteraksi dengan lingkungannya, 2) pengetahuan yang diterima oleh seseorang merupakan proses pembinaan diri dan pemaknaan, bukan internalisasi makna dari luar

2. Konstrukstivisme personal

Pembelajaran menurut konstruktivisme personal, memiliki beberapa anggapan (postulat), yaitu: 1) Set mental (idea) yang dimiliki peserta didik mempengaruhi panca indera dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap proses pembentukan pengetahuan, 2) Input yang diterima peserta didik tidak memiliki makna yang tetap, 3) peserta didik menyimpan input yang diterima tersebut ke dalam memorinya, 4) input yang tersimpan dalam memori tersebut dapat digunakan lagi untuk menguji input lain yang baru diterima, 5) peserta didik memiliki tanggung jawab terhadap apa yang menjadi keputusannya

  1. Konstrukstivisme sosial

Konstruktivisme sosial beranggapan bahwa pengetahuan yang dibentuk oleh peserta didik, merupakan hasil interaksinya dengan lingkungan sosial disekitarnya, jadi dapat dikatakan bahwa: a) pengetahuan dibina oleh manusia, 2) pembinaan pengetahuan bersifat sosial dan personal, 3) pembina pengetahuan personal adalah perantara soial dan pembina pengetahuan sosial adalah perantara personal, 4) pembinaan pengetahuan sosial merupakan hasil interaksi sosial, dan 5) interaksi sosial dengan yang lain adalah sebagian dari personal, pembinaan sosial, dan pembinaan pengetahuan bawaan

4. Konstrukstivisme radikal

Konstruktivisme radikal dikembangkan oleh von Glaserfeld (1984), yang beranggapan bahwa: 1) kebenaran tidak diketahuai secara mutlak, 2) pengetahuan saintifik hanya dapat diketahui dengan menggunakan instrumen yang tepat, 3) konsep yang terjadi adalah hasil yang diperoleh individu setelah melakukan ujicoba untuk menggambarkan pengalaman subjektif, 4) konsep akan berkembang dalam upaya penggambaran fungsi efektif tentang pengalaman subjektif

Implikasi konstrukstivisme terhadap pembelajaran adalah

  1. Pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik, jika peserta didik tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya.
  2. Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya.
  3. Untuk memutuskan (menilai) keputusannya, peserta didik harus bekerja sama dengan peserta didik yang lain.
  4. Guru harus mengakui bahwa peserta didik membentuk dan menstruktur pengetahuannya berdasarkan modalitas belajar yang dimilikinya, seperti bahasa, matematika, musik dan lain-lain

2.10 Penerapan teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran

Teori Belajar

Karakteristik Teori

Langkah Penerapan Dalam pembelajaran

Teori belajar (konstruktivisme)

Belajar adalah perubahan proses meng-konstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata yang dialami para peserta didik sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan sekitarnya.

Pengetahuan yang mereka peroleh itu adalah hasil interpretasi pengalaman tersebut yang disusun dalam pikiran/ otak-nya. Jadi peserta didik belajar bukan berasal dari apa yang diberikan oleh guru, melainkan merupakan hasil usahanya sendiri berdasarkan hubungannya dengan dunia sekitar.

  • Tetapkan topik yang akan dibahas
  • Temukan idea, opini dan perhatian siswa melalui interviu, pertanyaan interaktif, survey, mapping konsep pertanyaan siswa, dan brainstorming;
  • Respon terhadap dan interkasi dengan pikiran siswa, melalui: pembentukan jembatan (bridges) dan lengkapi tahapan (scaffolding) bagi siswa untuk mengkonstruksi ide baru, penghilangan (unpacking) suatu masalah konseptual, terangkan suatu model perbedaan atau analogi, bangun (constructing) dan evaluasi suatu konsepsi alternatif;
  • Stimulasi/tarik fikiran siswa dengan mendorong creativitas melalui aktivitas seperti: meletakan tangan di atas meja untuk menarik perhatian, dorong siswa untuk belajar mengambil resiko, dorong kemampun metakognitif siswa, dan gunakan strategi belajar kooperatif;
  • Lakukan refleksi – evaluasi diri
  • Taksir (assessing) kemajuan belajar siswa melalui: perubahan dalam ide siswa, transfer dan keterkaitan ide, belajar melalui belajar keterampilan, pengulangan (retention) ide baru, dan peningkatan (improved) hasil test.
  • Atur diskusi kelompok kecil.
  • Berikan kebebasan kepada setiap kelompok untuk membahas/ mengkaji sub topik yang ada dalam topik permasalahan utama,
  • Beri kesempatan pada peserta didik untuk memaparkan hasil belajarnya kepada teman yang lain, untuk melatih keterampilan dalam berfikir dan berbicara secara kritis tentang hasil belajarnya.
  • Lakukan evaluasi terhadap hasil proses belajar peserta didik.

Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat dijelaskan perbandingan perspektif dari ketiga teori belajar tersebut, yaitu

Tabel 2.11 Perbandingan Persfektif Teori Belajar

BEHAVIORISME KOGNITIVSME CONTRUCTIVISME
Bagaimana Belajar dideskripsikan? Suatu perubahan dalam kemungkinan perilaku tertentu yang terjadi di dalam situasi tertentu Perubahan pengetahuan yang tersimpan dalam memori Perubahan dalam tujuan konstruksi dari pengalaman
Bagaimana proses belajar dipandang? Suatu anteseden, dari perilaku terdahulu yang diikuti oleh beberapa kon-sekwensi Memori melibatkan tiga proses: perhatian, pengkodean, dan perolehan kembali Saling berpengaruh antar pengetahuan yang ada pada siswa, konteks sosial, dan masalah untuk dipecahkan
Apa yang dilakukan guru dalam proses? Menyusun ketidaktentuan dan menyajikannya pada para siswa Membantu dan mendukung proses kognitif yang mendukung memori Melengkapi peserta didik dengan situasi kolaborasi
Bagaimana guru mengelola proses ? 1. Menentukan tujuan pembelajaran sebagai perilaku peserta didik

2. Menggunakan isyarat untuk membantu pe-serta didik terhadap perilaku yang dinginkan

3. Menggunakan konsekuensi ter-hadap penguatan perilaku yang di-inginkan

1. Mengorganisai informasi baru

2. Mengkaitkan iinformasi baru dengan pengetahuan yang telah ada

3. Menggunakan teknik untuk membantu dan mendukung terhadap per-hatian, peng-kodean, dan perolehan kembali peserta didik

1. Melengkapi peserta didik dengan “Masa-lah yang baik” yang akan dijadikan investigasi (penyelidikan)

2. Menciptakan aktivitas kelompok bel-ajar

3. Model dan bantuan proses pembentukan pengetahuan

4. Pengembangan Model Belajar

Berpijak pada rumpun teori belajar seperti dijelaskan di atas, maka dalam pengembangan model pembelajaran harus selaras dengan teori belajar yang dianut. Penganut teori behaviorisme, model pembelajaran yang dapat digunakan diantaranya adalah model pembelajaran yang tergolong pada kelompok perilaku. Penganut teori kognitivisme, model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran yang mengarah pada proses pengolahan informasi. Penganut teori belajar konstruktivisme, maka model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran yang bersifat interaktif dan model pembelajaran yang berpusat pada masalah. Hal ini didasarkan pada salah satu prinsip yang dianut oleh konstruktivisme, yaitu bahwa setiap siswa menstruktur pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman dan hasil interaksinya dengan lingkungan sekitar.

1. Pengembangan model pembelajaran yang menganut teori behaviorisme.

Sesuai dengan pilosofis yang dianut oleh para ahli behavioris tentang belajar, yaitu perubahan perilaku yang dapat diukur, maka dalam pengembangan model pembelajaran harus diarahkan pada proses penciptaan perilaku baru yang dapat diukur. Menurut pilosofis behaviorist, belajar terjadi berdasarkan pola berfikir deduktif, dan siswa belajar secara individu (individual learning). Selain itu, dalam proses pemelajarannya lebih terfokus pada guru (teacher centered).

Model pembelajaran yang dapat dikembangkan diantaranya adalah model pembelajaran mastery, model pembelajaran langsung, model pembelajaran simulasi, model pembelajaran sosial, dan model pembelajaran berprogram. Model-model tersebut dapat dikembangkan dengan berbagai pendekatan dan strategi.

Tabel 2.12 Pendekatan dan strategi Rumpun Teori Behaviorisme

MODEL BELAJAR

KARAKTERISTIK

PENDEKATAN

STRATEGI

TAKTIS

Behaviorisme 1. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang dapat diukur.

2. Siswa belajar secara indi-vidu dengan pola deduktif.

3. Ekstrinsik motivasi, sehing-ga perlu stimulus, dan guru melakukanpenguatan.

4. Siswa pasif (penerima), dan tergantung pada guru.

5. Pembelajaran terpusat pada guru.

Mastery

Inquiry

Free Inquiry
Structured laboratory inquiry
Model inquiry Such-man
Theme-based model: pupil centered, "multi disciplinary free in-quiry"

Discovery

Contextual

Langsung

Interactive

Tidak langsung

Sosial

Simulasi

Berprogram

2. Pengembangan model pembelajaran yang menganut teori kognitivisme.

Menurut pandangan kognitivisme, belajar bukan hanya sekedar perubahan perilaku yang dapat diukur, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut diproses. Kognitivisme memandang belajar bukan hanya sekedar keterkaitan antara stimulus dan respons, melainkan apa yang terjadi didalam fikiran atau mental orang yang belajar. Seseorang dikatakan belajar apabila dalam diri individu tersebut terjadi proses pengolahan informasi dari saat menerima informasi baru, mengolah, menyimpan dan mengulang kembali. Implikasinya belajar akan baik apabila disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Artinya, mengajarkan topik yang sama untuk anak SD, SLTP, SMU, dan orang dewasa akan memiliki cara yang berbeda. Keberadaan guru hanyalah sebagai fasilitator yang menyediakan kondisi untuk terjadinya proses insight.

Tabel 2.13 Pendekatan dan strategi Rumpun Teori Kognitivisme

MODEL BELAJAR

KARAKTERISTIK

PENDEKATAN

STRATEGI

Kognitivisme 1. Belajar adalah proses mental bukan behavioral.

2. Siswa aktif sebagai penyadur,

3. Siswa belajar secara individu dengan pola deduktif dan induktif.

4. Instrinsik motivation, sehingga tidak perlu stimulus.

5. Siswa sebagai pelaku untuk menuntun penemuan.

6. Guru memfasilitasi terjadinya proses insight.

“Pemrosesan Informasi”
  1. Berpikir Indikator (Indicator Thinking)
  2. Concept Attainment
  3. Memory Assist
  4. Advance Organizer
  5. Penemuan Ilmiah (Scientific Inquiry)
  6. Latihan Menemukan (Inquiry Training)
  1. Synectic
Concept Mapping
Advance Organizer
Cone of Exeprience
Cognitif Apprenticeship
Cognitif Flexibility
Generative Learning
Discovery Learning
Conversation
Mind Tools
The Minimalist Model
PBL
Structural Knowledge

3. Pengembangan model pembelajaran yang menganut teori konstruktivisme.

Berbeda dengan teori sebelumnya, konstruktivisme berpandangan bahwa pengetahuan diperoleh langsung oleh siswa berdasarkan pengalaman dan hasil interaksi dengan lingkungan sekitar. Proses pemelajarannya lebih ditekankan pada model belajar kolaboratif. Siswa belajar dalam kelompok tidak seperti pada pembelajaran konvensional, bahwa siswa belajar secara individu. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa seorang siswa tidak hanya belajar dari dirinya sendiri, melainkan juga belajar dari yang lain,maka model pembelajaran yang perlu dikembangkan adalah model pembelajaran yang terpusat pada masalah dan model belajar kolaboratif

Tabel 2.14 Pendekatan dan strategi Rumpun Teori Konstruktivisme

MODEL BELAJAR

KARAKTERISTIK

MODEL pembelajaran

PENDEKATAN

STRATEGI

Konstruktivisme 1. Belajar sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan

2. Siswa aktif

3. Siswa bekerja dalam kelompok

4. Guru berperan sebagai fasilitator dalam menyiapkan kondisi yang kolaboratif

Berpusat pada masalah Inquiry Free Inquiry
Structured laboratory inquiry
Model inquiry Suchman
Penciptaan Pengetahuan
Theme-based model: pupil centered, "multi-disciplinary free inquiry"
Discovery
Kooperatif
Jigsaw
STAD
TGT
TAI
Group Investigation
Learning Together
Pemecahan Masalah/ problem solving
Heuristik
Algoritma
Subgoals
Gagnon and Collay’s
Lima fase/Five E’s
Empat Fase

5. Model Belajar Cooperative Learning

Menurut Lie, Anita (2004: 18) “Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”. Cooperative learning dalam kajian ini lebih dikenal dengan istilah pembelajaran kooperatif yang maknanya bukan hanya sekedar belajar berkelompok tetapi lebih kearah membentuk kelompok kerja dengan lingkungan yang positif dan meniadakan persaingan individu dalam kelompok untuk mendapatkan prestasi akademik. Menurut Trianto (2007: 41) “Cooperative learning bisa juga diartikan sebagai suatu motif kerja sama dimana setiap individu dihadapkan pada pilihan yang harus diikuti apakah memilih kerjasama, kompetisi, atau individualistis”. Penggunaan cooperative learning merupakan suatu pendekatan dalam proses pembelajaran yang membutuhkan partisipasi atau kerjasama dalam berkelompok

Pembelajaran kooperatif merupakan ide lama. Semenjak abad pertama setelah masehi, para filosof sudah mengemukakan bahwa agar seseorang belajar, dia harus memiliki teman belajar. Pembelajaran kooperatif membuat peserta didik akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya (Slavin, 1995:227)

Pembelajaran kooperatif menekankan siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang siswa, campuran siswa berkemampuan tinggi, sedang, rendah, jenis kelamin dan suku/ras saling bekerja sama membatu satu sama lain. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khususnya agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang aktif, memberi penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi latihan-latihan soal. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan kepada siswa adalah sebagai berikut (Lundgren, 1994:5).

  1. Siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”
  2. Siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
  3. Siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memilki tujuan yang sama
  4. Siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara para anggota kelompok.
  5. Siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
  6. Siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
  7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individu materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif perlu diinformasikan terlebih dahulu kepada siswa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Hal ini penting, mengingat setiap kelompok harus ditekankan pada penyelesaian tugas dan hubungan interpersonal yang berorientasi pada hasil belajar kelompok.

Selanjutnya (Johnson, 1994:136) menguraikan komponen-komponen dasar yang berada dalam penerapan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

  1. Ketergantungan positif

Ketergantungan positif menyebabkan anggota kelompok bekerja giat dan bekerja sama dalam mencapai keberhasilan yang melebihi kinerja individual. Ketergantungan positif membentuk dua alasan tanggung jawab setiap anggota kelompok, yaitu mempelajari materi yang telah ditentukan dan yakin bahwa semua anggotanya telah mempelajari materi-materi yang telah ditentukan.

  1. Pemberian tanggung jawab individu

Pemberian tanggung jawab individu bertujuan untuk mempersiapkan semua anggota kelompok agar dapat menyelesaikan tugas yang serupa secara individual dengan menerapkan pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari secara bersama-sama dalam kelompok.

  1. Peningkatan interaksi secara langsung

Tiga langkah yang dapat meningkatkan interaksi antar setiap anggota. Pertama, menjadwalkan waktu untuk bertemu. Kedua, meningkatkan ketergantungan positif yang meminta anggota bekerjasama untuk keberhasilan kelompok. Ketiga, mendorong peningkatan interaksi antara anggota kelompok.

  1. Keterampilan interpersonal

Menciptakan hubungan kerjasama interpersonal dalam kelompok dilakukan dengan siswa belajar menggunakan keterampilan kooperatif, fungsi keterampilan ini dapat meningkatkan peranan hubungan kerja dan peranan tugas agar kelompok bekerja lebih produktif. Peranan hubungan kerja ini dibangun dengan mengembangkan komunikasi dan hubungan antar anggota kelompok.

  1. Proses kelompok

Dimaksudkan sebagai aktivitas kelompok untuk mendiskripsikan tindakan-tindakan setiap anggota dalam aktivitas kelompok. Dalam aktivitas kelompok ini kelompok membuat keputusan tentang tindakan-tindakan apa yang perlu dilanjutkan dan yang tidak perlu . Tujuan kelompok ini untuk memperjelas dan meningkatkan keefektifan para anggota dalam menyumbangkan usaha kegiatan bersama untuk sampai pada tujuan.

Beberapa nilai positif dalam pembelajaran kooperatif, antara lain, (Slavin, 1995:17)

  1. Siswa bekerjasama dalam mencapai tujuan menjunjung tinggi norma kelompok
  2. Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil
  3. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

Selain mempunyai nilai positif, pembelajaran kooperatif juga mempunyai kelemahan yang harus dihindari, yakni adanya anggota kelompok yang tidak aktif. Ini akan terjadi jika hanya ada satu permasalahan saja. Kelemahan ini dapat dihindari dengan cara sebagai berikut, (Slavin, 1995:19).

  1. Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab pada bagian-bagian tertentu dari permasalahan kelompok.
  2. Masing-masing anggota kelompok harus mempelajari materi secara keseluruhan. Hal ini karena hasil kelompok ditentukan oleh skor perkembangan masing-masing individu dalam kelompok.

Cooperative Learning terdiri dari beberapa tipe yaitu :

  1. Student Teams Achievement Division (STAD)
  2. Teams Games Tournamens (TGT)
  3. Teams Assisted Individualization (TAI)
  4. Cooperative Integrted Rading and Composition (CIRC)
  5. Jigsaw

6. Student Team Achievement Division (STAD)

Student Team Achievement Division (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Lima tahap pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam proses kegiatan pembelajaran, yakni persiapan, penyajian materi, kegiatan kelompok, pengujian hasil belajar, dan pemberian penghargaan kelompok (Slavin, 1995:17). Ini sesuai dengan pendapat (Kauchak dan Eggen, 1996:289) yang menyatakan juga terdapat lima tahap dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD, yakni penjelasan materi, pembentukan kelompok, kegiatan kelompok disertai pemonitoring guru, tes, dan penghargaan kelompok. Persiapan yang dilakukan yaitu guru perlu melakukan persiapan materi, cara pembentukan kelompok, dan penentuan skor awal siswa.

Secara garis besar, tahap-tahap pembelajaran kooperatif tipe STAD yang diterapkan dalam penelitian ini dibagi 5 tahap sebagai berikut:

Gambar 2.4 : Langkah-Langkah Model Cooperative Learning Tipe STAD

  1. Tahap Persiapan

Tahap ini, guru mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pemelajaran (RPP), materi dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara berkelompok. Selanjutnya pembentukan kelompok, dalam pembentukan kelompok ini pembagianya secara heterogen berdasarkan tingkat kemampuan siswa, yang dilihat pada nilai sebelumnya. Jumlah anggota setiap kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 4-6 orang. Fungsi utama dari kelompok adalah meyakinkan bahwa semua anggota belajar dengan kerjasama antara anggota kelompok.

  1. Tahap Penyajian Materi

Kegiatan penyajian materi dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD umumnya melalui pembelajaran langsung. Dalam tahap ini, guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan indikator pembelajaran dan memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep yang akan dipelajari.

Hal-hal yang perlu ditekankan guru dalam penyajian materi pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang dipelajari siswa dalam kelompok.
  2. Memberitahukan kepada siswa bahwa pembelajaran kooperatif menekankan pemahaman makna bukan hanya hafalan.
  3. Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
  4. Memberi penjelasan mengapa jawaban dari suatu pertanyaan benar atau salah.
  5. Tahap Kegiatan Kelompok

Kerja kelompok, guru membagikan Latihan-latihan soal tentang materi yang telah dijelaskan. Dalam kegiatan kelompok, tiap kelompok berbagi dalam mengerjakan tugas-tugas, dan saling memberikan informasi hasil pekerjaanya.. Sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan kegiatan kelompok.

  1. Pengujian Hasil Belajar

Melihat hasil belajar siswa maka guru memberikan tes akhir setelah penerapan Cooperative Learning tipe STAD. Tes dilakukan secara mandiri agar siswa dapat menunjukan apa yang telah dia pelajari secara individu selama bekerja dengan kelompok. Dalam penelitian ini digunakan tiga kali siklus dan untuk setiap siklusnya direncanakan berdasarkan refleksi dari hasil siklus sebelumnya..

  1. Tahap penghargaan kelompok

Penghargaan kelompok diberikan oleh guru pada kelompok yang mendapat nilai/skor paling tinggi, penghargaan ini biasa berupa pujian atau benda, hal ini bagaimana kebijakan guru

7. Pendidikan Dasar Teknik Mesin

Pendidikan Dasar Teknik Mesin (PDTM) merupakan salah satu mata diklat yang menjadi dasar dari aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus dikuasai oleh seluruh siswa tingkat I dan II di SMK dengan program diklat Teknik mesin. Selain itu, mata diklat PDTM juga merupakan mata diklat dasar keteknikan yang akan berhubungan dengan mata diklat keteknikan selanjutnya.

Salah satu materi yang sangat esensial pada mata diklat PDTM yaitu konsep-konsep mekanika teknik yang menerapkan perhitungan-perhitungan dalam menyelesaikan soalnya. Materi PDTM khususnya pada tingkat I memuat bahan kajian dan pelajaran tentang pengaruh gaya terhadap benda, perhitungan kekuatan dan stabilitas suatu rancangan atau pekerjaan konstruksi logam. Jadi siswa diharapkan mampu untuk menguasai dasar-dasar perhitungan konstruksi mesin dan materi dari PDTM yang akan diteliti hanya pada momen dan gaya.

a. Pengertian Gaya

Definisi Umum Gaya :

Gaya adalah sesuatu yang menyebabakan benda yang diam menjadi bergerak atau sesuatu yang menyebabkan benda yang sedang bergerak mengalami perubahan gerak

Definisi Khusus Gaya :

Gaya adalah beban atau muatan yang bekerja pada suatu konstruksi.Simbol gaya adalah F dengan satuan kg , N.

Komponen-komponen gaya yaitu :

- Titik tangkap

- Besar

- Arah

Menyusun gaya adalah suatu pekerjaan yang dilakukan untuk mendapatkan gaya pengganti atau disebut dengan resultan.

  • Rumus:

    Arah :

    Sudut Lancip

R

Ø Sudut 90º

Rumus:

Arah :

R
  • Sudut Tumpul
Rumus:

Arah :

R

Y
X

Penguraian lebih dari dua buah gaya

Untuk mendapatkan resultan gaya dihitung terlebuh dahulu resultan pada sumbu x dan resultan pada sumbu y

Resultan sumbu x :

Resultan sumbu y :

b. Menyusun Dan Menguraikan Lebih Dari Dua Buah Gaya Yang Mempunyai Titik Tangkap Berbeda

  • Menghitung Rx

Untuk menghitung Rx menggunakan rumus :

  • Menghitung Ry

Untuk menghitung Ry menggunakan rumus :

Membedakan arah gaya dengan memberikan tanda (-) dan (+) apabila arahnya berlawanan.

Contoh :

Tentukan besar dan letak R dari sistem gaya yang terdapat pada gambar di bawah:

Penyelesaian:

Karena gaya-gaya pada gambar diatas mempunyai arah yang sama, maka resultan dari gaya-gaya itu merupakan aljabar dari gaya-gaya yaitu : . Sedangkan untuk menentukan momen kita harus menggunakan hukum momen yang berbunyi sebagai berikut: “Momen dari resultan gaya-gaya adalah sama dengan jumlah aljabar dari momen-momen gaya itu terhadap titik yang ditetapkan bebas.

Secara matematis ditulis:

2 Komentar

  1. trims yaa atas tulisannya..

  2. sama-sama,,smangat….


Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • ARSIP QT

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.